
“Kami tak butuh asrama yang mewah, yang penting kami bisa punya air bersih untuk makan, mck dan wudhu”
***

19 santri yatim dan dhuafa yang tinggal di Pondok Pesantren Nurul Amin hanya punya satu sumber air dari sungai yang bercampur tanah. Di dekat asrama mereka yang terletak di Desa Durian, Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Air itu dipakai untuk berbagai macam kebutuhan seperti wudhu, MCK bahkan memasak. Untuk mendapatkannya, para santri harus rela menuruni bukit curam setiap hari lalu menimbanya.

Alhasil, para santri seringkali mengeluh gatal-gatal dan sakit perut akibat air yang tak higienis.
Karena mayoritas santri berasal dari keluarga yang tak mampu, mereka di sini menuntut ilmu secara gratis. Untuk makan sehari-hari pun hanya mengandalkan hasil kebun seperti sayur dan ketela.

Sedihnya lagi, asrama mereka kini hampir roboh karena hantaman angin kencang. Tempat mereka beristirahat hanya berupa tikar rotan dan sajadah masjid untuk meredam rasa dingin.
Padahal, tidur tanpa kasur bisa berbahaya bagi kesehatan para santri karena bisa menyebabkan penyakit flu, masuk angin, infeksi kulit, bahkan hingga penyakit paru-paru.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik